Amin Nabizada Bersinar, Watford Tahan Imbang West Ham

Amin Nabizada tampil memukau dan mencetak gol indah kala Watford menahan imbang West Ham United dalam laga Championship. Hasil imbang ini semakin menekan posisi Nuno Espírito Santo, yang belum meraih kemenangan dalam tiga laga awal bersama West Ham. Padahal, ekspektasi terhadap The Hammers begitu tinggi setelah mereka turun kasta dari Premier League.

West Ham adalah klub yang sudah mapan di level atas sepak bola Inggris, bermarkas di stadion berkapasitas 68.000 penonton, dan bahkan memecahkan rekor transfer Championship usai terdegradasi. Dengan segala modal tersebut, banyak pihak meyakini West Ham bakal melaju mulus di divisi dua musim ini. Namun kenyataannya, tiga pekan berjalan mereka belum sekalipun merasakan kemenangan dan suporter mulai angkat suara.

Gol Indah Amin Nabizada Bawa Watford Unggul Lebih Dulu

Bermain di kandang sendiri, Watford justru tampil percaya diri melawan tim yang di atas kertas jauh lebih kuat. Amin Nabizada menjadi pembeda ketika ia berhasil menjebol gawang West Ham yang dijaga Mads Hermansen. Pemain berusia 19 tahun itu melakukan stepover untuk menciptakan ruang di sisi kiri kotak penalti, lalu melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dijangkau kiper dan masuk ke pojok atas gawang.

Gol tersebut merupakan gol kedua Nabizada dalam tiga penampilannya bersama Watford pada musim ini. Sebelumnya, ia juga kerap menjadi ancaman terbesar bagi pertahanan lawan dengan kecepatan dan keberaniannya membawa bola. Berkat gol ini, Watford unggul lebih dulu sebelum akhirnya harus berbagi angka.

Sepanjang laga, West Ham sebenarnya meningkatkan intensitas serangan mereka seiring berjalannya waktu. Namun yang mengejutkan, tim tamu hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran selama pertandingan. Ketajaman yang minim ini menjadi catatan besar bagi Nuno dan staf kepelatihannya untuk segera dibenahi.

Gol Penyeimbang West Ham yang Penuh Keberuntungan

West Ham baru bisa menyamakan kedudukan delapan menit setelah gol Nabizada tercipta. Gol tersebut lahir dari kesalahan fatal bek Watford, Kévin Keben, yang mencoba menggiring bola keluar dari garis gawangnya sendiri. Valentín Castellanos berhasil merebut bola dan mengirim umpan yang kemudian membentur Mattie Pollock sebelum masuk ke gawang Watford.

Keberuntungan memang berpihak pada West Ham dalam momen tersebut, tetapi secara keseluruhan permainan mereka belum meyakinkan. Jarrod Bowen memang makin dominan seiring berjalannya laga, membuat Watford bertahan lebih dalam. Namun dominasi teritorial itu tidak menghasilkan peluang emas yang berarti bagi tim tamu.

Watford bahkan nyaris mencetak gol kemenangan lewat Iker Bravo, yang tembakannya membentur pemain bertahan dan melambung di atas gawang. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang berbunyi dan membuat kedua tim harus puas berbagi satu poin. Hasil ini jelas lebih menguntungkan Watford yang di atas kertas tidak diunggulkan.

Awal Musim yang Sulit, Nuno Semakin Tertekan

Hasil imbang ini merupakan yang kedua beruntun bagi West Ham setelah sebelumnya ditahan Burnley dan dikalahkan Charlton. Suporter yang datang ke kandang Watford tak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka. Sorakan “you’re getting sacked in the morning” terdengar jelas ditujukan kepada Nuno Espírito Santo.

Nuno sendiri sadar bahwa hasil ini jauh dari harapan klub sebesar West Ham. Ia mengakui bahwa timnya sedang dalam proses pembangunan dan meminta suporter tetap percaya. “Kami klub besar dan favorit untuk promosi,” ujar Nuno. “Kami sudah tiga laga dan baru mengumpulkan dua poin. Siapa yang senang? Saya tetap percaya pada anak-anak.”

Tekanan juga datang dari kebijakan transfer klub yang memecahkan rekor pengeluaran di Championship. West Ham menggelontorkan dana sebesar 22 juta poundsterling untuk mendatangkan Arne Engels. Nuno bahkan sempat mengatakan bahwa pembelian itu dilakukan dengan pandangan ke depan agar Engels siap tampil di Premier League, sehingga hasil buruk kini menjadi bumerang baginya. Beberapa catatan negatif membayangi West Ham di awal musim ini:

  • Belum pernah menang dalam tiga laga awal Championship
  • Hanya mengoleksi dua poin dari tiga pertandingan yang sudah dimainkan
  • Suporter mulai menyuarakan kekecewaan kepada Nuno di laga tandang

Watford Berjuang di Tengah Keterbatasan Skuad

Di sisi lain, Watford datang ke laga ini dengan kondisi yang jauh dari ideal. Tim besutan Alessio Dionisi itu hanya finis di peringkat 16 musim lalu dan nyaris tidak melakukan perkuatan berarti pada bursa transfer. Keterbatasan jumlah pemain utama bahkan memaksa Dionisi mengubah skema latihan demi menutupi kekurangan tersebut.

Masalah kedalaman skuad terlihat jelas dari bangku cadangan Watford yang minim pemain lapangan. Bahkan dua kiper harus duduk di bangku cadangan, sebuah sinyal diam-diam bagi manajemen untuk segera bergerak di bursa transfer. Meski demikian, Watford justru tampil tak terkalahkan di awal musim ini.

Padahal, jadwal yang mereka hadapi cukup berat: bertemu Southampton, Wrexham, dan West Ham yang semuanya diprediksi bakal bersaing di papan atas. Dionisi berhasil meracik strategi yang membuat timnya solid meski minim opsi. Kehadiran pemain muda seperti Nabizada menjadi angin segar bagi Watford.

Kisah Menarik di Balik Nama Amin Nabizada

Menariknya, Dionisi mengaku tidak mengenal Amin Nabizada sebelum tiba di Watford. Namun kini, hampir semua penggemar Championship tahu siapa pemain muda tersebut. Nabizada adalah pemain kelahiran Inggris yang membela tim nasional Afghanistan, dan musim ini menjadi musim pertamanya sebagai starter di tim senior.

Sebelum musim ini bergulir, Nabizada belum pernah sekali pun tampil sebagai starter di laga senior. Ia adalah produk akademi Watford yang kini menjelma menjadi salah satu talenta paling mentereng di divisi dua Inggris. Kombinasi kecepatan, keberanian membawa bola, dan penyelesaian akhir yang tenang menjadi senjata utamanya.

Penampilannya melawan West Ham membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan di level ini. Dengan usianya yang masih 19 tahun, Nabizada punya potensi besar untuk terus berkembang. Jika konsisten, bukan tidak mungkin ia akan menjadi aset berharga bagi Watford maupun tim nasional Afghanistan.

Laga Kontra Wolves Menjadi Ujian Penting West Ham

Nuno menegaskan bahwa kemenangan harus segera datang, dan target terdekat adalah laga kontra Wolves pada Selasa mendatang. Wolves juga merupakan tim yang baru terdegradasi dari Premier League, sehingga laga ini menjadi ujian penting bagi kedua tim. “Kemenangan itu harus datang, semoga pada Selasa,” kata Nuno penuh harap.

Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa timnya akan segera menemukan ritme terbaik. “Kami akan menyatu, kami akan klop, dan kami yakin dengan kualitas yang kami miliki, kami akan melakukannya,” tambahnya. Namun di mata suporter tandang, waktu mungkin semakin menipis.

Musim Championship memang masih sangat panjang dengan 46 pertandingan yang harus dilalui. Namun kebiasaan buruk di awal musim bisa menjadi bumerang jika tidak segera diperbaiki. West Ham harus segera bangkit, sementara Watford bisa tersenyum karena berhasil menahan tim unggulan di kandang sendiri.

Pertandingan ini kembali menunjukkan bahwa Championship bukanlah liga yang mudah, bahkan bagi tim sebesar West Ham sekalipun. Amin Nabizada menjadi bintang dengan gol indahnya, sementara Nuno harus bekerja ekstra keras untuk membalikkan tekanan yang terus menghampiri. Semua mata kini tertuju pada laga kontra Wolves, di mana nasib sang manajer bisa ikut ditentukan.

Hasil Sepak Bola Eropa: PSG Curi Imbang, Bayern Pesta Gol

Hasil sepak bola Eropa akhir pekan ini menghadirkan sejumlah momen dramatis yang sayang untuk dilewatkan. Paris Saint-Germain nyaris tumbang di kandang Lille sebelum Marquinhos menyelamatkan timnya dengan gol di menit akhir injury time. Sementara itu, Bayern Munich langsung menunjukkan ketajamannya di Bundesliga dengan kemenangan telak 5-1 atas Stuttgart.

Dua hasil ini menjadi sorotan utama karena melibatkan raksasa liga masing-masing. PSG, juara bertahan Ligue 1, masih kesulitan menemukan konsistensi setelah hanya mampu bermain imbang melawan Rennes di laga pembuka. Di sisi lain, Bayern membuka langkah mempertahankan gelar dengan cara yang mengingatkan banyak orang pada dominasi mereka musim lalu.

Hasil Sepak Bola Eropa: Drama Comeback PSG di Kandang Lille

Paris Saint-Germain harus puas berbagi angka setelah ditahan imbang 2-2 oleh Lille di kandang lawan pada Jumat malam. Gol penyelamat datang dari bek Marquinhos yang mencetak sundulan pada masa injury time. Hasil ini membuat PSG untuk sementara belum merasakan kemenangan dalam dua pertandingan pembuka musim.

Lille unggul lebih dulu pada menit ke-21 melalui Hákon Haraldsson. Gelandang asal Islandia itu melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dihalau Matvei Safonov setelah menerima umpan terobosan brilian dari Olivier Giroud. Keunggulan tersebut sempat membuat PSG kesulitan mengembangkan permainan.

Meski memiliki banyak pemain bintang di lini serang, PSG kesulitan mencatatkan tembakan tepat sasaran. Lille bertahan rapat dan memaksa juara bertahan Ligue 1 untuk banyak menyerang dari area sayap. Ketika Dilane Bakwa mencetak gol kedua pada menit ke-84, kemenangan Lille nyaris menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

Namun, drama justru terjadi di masa injury time. Vitinha memperkecil ketertinggalan lewat tembakan indah ke pojok kiri atas gawang pada menit pertama masa tambahan waktu. Empat menit kemudian, umpan silang Vitinha disundul Marquinhos untuk menyamakan kedudukan sekaligus melengkapi comeback yang nyaris mustahil.

Bayern Munich Pesta Gol ke Gawang Stuttgart

Bayern Munich mengawali perjuangan mempertahankan gelar Bundesliga dengan kemenangan telak 5-1 atas Stuttgart di Allianz Arena. Penampilan gemilang di babak kedua menunjukkan ketajaman lini depan Bayern belum berkurang dibanding musim lalu. Tuan rumah tampil agresif dan menciptakan banyak peluang sejak menit awal.

Gol-gol kemenangan Bayern disumbangkan oleh Dayot Upamecano, Michael Olise, Aleksandar Pavlovic, dan Luis Díaz. Selain itu, ada pula gol bunuh diri dari Josha Vagnoman yang ikut melengkapi pesta gol tuan rumah. Bayern sebenarnya juga memiliki sejumlah peluang emas lain yang gagal dikonversi menjadi gol.

Malam yang campur aduk dialami Vagnoman dari kubu Stuttgart. Pemain tersebut sempat menyamakan kedudukan di awal babak kedua, tetapi ia juga mencatatkan gol ke gawangnya sendiri. Kemenangan pada laga pertama musim baru ini sekaligus memperpanjang catatan tak terkalahkan Bayern menjadi 15 pertandingan.

Musim lalu, Bayern merebut gelar Bundesliga dengan keunggulan 16 poin atas pesaing terdekat dan mencetak rekor 122 gol dalam satu musim. Melawan tim yang finis di posisi keempat musim lalu, Bayern menciptakan peluang demi peluang tanpa henti. Hal ini menjadi tanda bahwa dominasi Bayern berpotensi kembali terulang pada musim ini.

Milan Menang di San Siro, Ramos Cetak Gol Pertama

Di Serie A, AC Milan meraih kemenangan 2-0 atas Venezia di San Siro. Gonçalo Ramos membuka keunggulan pada menit ke-69 lewat tembakan keras dari sudut sempit yang menjadi gol pertamanya di Serie A. Gol bunuh diri Redouane Halhal di akhir laga kemudian memastikan kemenangan bagi tuan rumah.

Milan mengeluarkan dana hingga €74 juta untuk memboyong Ramos dari PSG. Penyerang asal Portugal itu pun langsung menjawab kepercayaan klub dengan mencetak gol penting di laga kandang. “Yang terpenting bukan gol saya, melainkan kemenangan tim. Saya seharusnya bisa mencetak lebih dari satu gol malam ini,” ujar Ramos seusai pertandingan.

Laga ini menjadi pertandingan kandang pertama Milan sejak meninggalnya Franco Baresi, salah satu legenda terbesar klub. Sebelum kick-off, Milan memberikan penghormatan khusus kepada mantan kapten mereka tersebut. Sebelumnya, Milan juga mengawali musim dengan hasil positif berupa kemenangan 2-1 atas Torino.

Hasil La Liga: Racing Santander dan Alavés Raih Tiga Poin

Berpindah ke La Liga, Racing Santander berhasil meraih kemenangan perdana mereka sejak kembali ke kasta tertinggi sepak bola Spanyol. Tim asal Santander itu menaklukkan Elche dengan skor 3-2 dalam laga yang berjalan sengit. Kemenangan ini tentu menjadi suntikan moral besar bagi tim yang baru kembali ke kompetisi level teratas.

Sementara itu, Alavés mengamankan tiga poin setelah mengalahkan Villarreal dengan skor tipis 1-0. Hasil ini menjadi modal berharga bagi Alavés untuk membangun momentum di awal musim. Adapun Villarreal harus segera memperbaiki performa mereka agar tidak tertinggal dari tim-tim papan atas lainnya.

Analisis: Sinyal Awal Persaingan Musim Ini

Dua hasil imbang beruntun menjadi sinyal peringatan bagi PSG meski mereka masih memiliki kualitas individu yang luar biasa. Masalah utama yang terlihat adalah kesulitan tim dalam mengonversi peluang menjadi gol, di samping kerentanan saat menghadapi tekanan lawan. Jika tidak segera diperbaiki, persaingan menuju gelar Ligue 1 bisa berlangsung lebih ketat daripada musim-musim sebelumnya.

Di sisi lain, Bayern membuktikan diri tetap menjadi kandidat terkuat gelar Bundesliga setelah start yang sangat meyakinkan. Adapun Milan perlahan menemukan ritme permainan mereka dengan tambahan daya gedor dari Ramos. Pekan-pekan berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya bagi setiap tim untuk menjaga konsistensi di kompetisi domestik masing-masing.

  • PSG masih mencari kemenangan perdana di Ligue 1 musim ini.
  • Bayern langsung tampil dominan

UEFA Cabut Boikot FIFA Usai Dapat Jaminan Piala Dunia

UEFA resmi cabut boikot FIFA setelah menerima jaminan tertulis yang mengikat bahwa skema penjualan saham Piala Dunia yang digagas Gianni Infantino tidak akan pernah diulang. Keputusan ini sekaligus memastikan tim-tim Eropa bisa tampil di Piala Dunia Wanita U-20 dan berbagai kompetisi FIFA berikutnya. FIFA sendiri telah memberikan jaminan bahwa tidak akan ada lagi rencana setara Fifa Forward Enterprise (FFE) yang diajukan dalam forum resmi mana pun.

Langkah ini menjadi titik terang setelah hubungan dua induk sepak bola terbesar di dunia itu memanas selama berminggu-minggu. Sebelumnya UEFA mengancam akan memboikot seluruh ajang FIFA sebagai bentuk protes terhadap rencana Infantino yang dinilai merusak masa depan sepak bola. Kini, setelah negosiasi intensif di belakang layar, kekhawatiran itu akhirnya terjawab dengan komitmen resmi dari FIFA.

UEFA Cabut Boikot FIFA demi Piala Dunia Wanita U-20

Pencabutan boikot ini menjadi kabar gembira bagi para pemain muda Eropa yang akan berlaga di Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia. Inggris, yang sudah mengumumkan skuadnya pekan lalu, kini bisa berangkat tepat waktu untuk laga pembuka melawan Kanada pada 5 September. Prancis dan Spanyol juga telah menyiapkan daftar pemain sejak awal dengan harapan ancaman boikot segera dicabut.

Selain Inggris, Prancis, dan Spanyol, ada tiga wakil Eropa lain yang dipastikan tampil di turnamen tersebut:

  • Portugal
  • Italia
  • Polandia (tuan rumah)

Sebelumnya, status keikutsertaan keenam negara ini sempat terancam karena sikap keras UEFA terhadap FIFA. Namun dengan adanya jaminan dari FIFA, seluruh wakil Eropa kini dipastikan bisa tampil di ajang yang dinantikan para penggemar sepak bola wanita tersebut.

Kronologi Konflik: dari Fifa Forward Enterprise hingga Jaminan FIFA

Konflik bermula ketika proposal Fifa Forward Enterprise (FFE) yang digagas Gianni Infantino terungkap ke publik. Rencana ini dinilai sebagai upaya menjual saham Piala Dunia kepada pihak ketiga, sebuah langkah yang menurut UEFA akan mendistorsi dan merusak tata kelola sepak bola dunia. UEFA pun langsung bereaksi keras dengan mengancam boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA.

Empat hari setelah rencana itu menjadi sorotan publik, FIFA akhirnya mengumumkan pengunduran diri dari skema FFE. Namun saat itu FIFA belum menyertakan komitmen bahwa rencana privatisasi serupa tidak akan diulang di masa depan. UEFA menilai sikap tersebut masih belum cukup karena syarat utama yang mereka ajukan—bahwa upaya serupa untuk merusak wajah sepak bola tidak akan pernah diulang—belum dipenuhi.

Meski sempat saling melempar pernyataan keras di depan publik, UEFA dan FIFA sebenarnya telah menggelar diskusi tertutup selama beberapa pekan terakhir. Dari perundingan itulah lahir jaminan tertulis yang selama ini dicari UEFA. Dalam korespondensi privat tersebut, FIFA akhirnya menyatakan tidak akan mengulang skema yang mirip dengan FFE.

Dampak Keputusan: FIFA Sambut Baik, Sikap UEFA pada Infantino Tetap

FIFA menyambut positif dicabutnya ancaman boikot ini. Dalam pernyataannya, FIFA menegaskan kegembiraannya karena semua tim yang lolos akan berpartisipasi dalam Piala Dunia Wanita U-20. FIFA juga meyakini bahwa sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan sekalipun, dan menantikan kehadiran seluruh tim di Polandia.

Meski demikian, sikap UEFA terhadap Gianni Infantino tidak berubah. UEFA tetap pada posisinya bahwa Infantino harus diganti dari kursi presiden FIFA. Langkah-langkah lanjutan terkait sikap UEFA terhadap kepemimpinan FIFA akan kembali dibahas dalam pertemuan penting di Monte Carlo pada Kamis ini.

Pertemuan tersebut menjadi momen penting karena 55 kepala asosiasi anggota UEFA akan berkumpul sebelum undian Liga Champions. Dalam agenda pertemuan itu, selain membahas kepemimpinan FIFA, UEFA juga akan membahas langkah strategis lainnya. Ini menandakan bahwa meski boikot sudah dicabut, hubungan UEFA dan FIFA masih belum sepenuhnya pulih.

Dukungan terhadap Infantino Makin Tergerus

Di tengah membaiknya hubungan UEFA dan FIFA, tekanan terhadap Infantino justru terus menguat. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada Rabu lalu menjadi pihak terbaru yang secara terbuka mencabut dukungannya terhadap presiden FIFA tersebut. FIGC menyatakan keputusan ini diambil untuk menunjukkan posisi yang jelas dan transparan terkait berbagai inisiatif Infantino soal tata kelola dan pengembangan kompetisi internasional.

Keputusan FIGC ini menambah daftar panjang pihak yang mulai menjauh dari Infantino. Sebelumnya, sejumlah federasi dan tokoh sepak bola Eropa juga telah menyuarakan kritik serupa. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun soal boikot sudah mereda, persoalan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA masih jauh dari selesai.

Konteks Lebih Luas: Masa Depan Hubungan UEFA dan FIFA

Dicabutnya boikot ini membawa kelegaan besar, terutama bagi para pemain muda yang tidak ingin terseret dalam konflik kekuasaan yang memanas. Banyak pihak berharap para pemain U-20 bisa fokus pada perkembangan karier mereka tanpa harus menjadi korban politik sepak bola tingkat tinggi. Namun peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa FIFA kembali dipaksa meredam dampak dari ulah presidennya sendiri.

Fakta bahwa FIFA harus memberikan jaminan khusus untuk memulihkan kepercayaan UEFA merupakan sebuah kehinaan lain bagi organisasi yang selama ini dihantui berbagai skandal. Ke depan, hubungan kedua badan tertinggi sepak bola dunia ini masih akan diuji dalam berbagai agenda besar. Yang jelas, kemenangan diplomatik kali ini berada di tangan UEFA yang berhasil memaksa FIFA menuruti tuntutannya.

Kesimpulan

Keputusan UEFA cabut boikot FIFA membuka jalan bagi enam wakil Eropa untuk tampil di Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia, setelah FIFA memberikan jaminan mengikat untuk tidak mengulang skema Fifa Forward Enterprise. Meski masalah boikot telah selesai, tekanan terhadap Gianni Infantino masih terus berlanjut, termasuk dari federasi Italia yang baru saja mencabut dukungannya. Pertemuan UEFA di Monte Carlo pada pekan ini akan menjadi panggung penentu langkah selanjutnya dalam dinamika hubungan UEFA dan FIFA.

Xavi Resmi Jadi Pelatih Belanda, Hidupkan Total Football

Xavi Hernandez resmi menjadi pelatih Belanda. Dalam presentasi perdananya, ia menegaskan bahwa dirinya kini sedang masuk ke “universitas sepak bola” dan siap menghadirkan kembali gaya menyerang khas Negeri Oranye. Pelatih berusia 46 tahun itu juga membawa misi untuk membangun tim yang penuh semangat, ambisi, dan keinginan besar untuk mendominasi pertandingan.

Penunjukan ini menjadi babak baru bagi skuad Oranye yang sedang mencari identitas setelah beberapa tahun terakhir kerap berganti gaya kepelatihan. Prosesnya sendiri berlangsung panjang dan melibatkan sejumlah nama besar, mulai dari Pep Guardiola hingga Arne Slot, sebelum akhirnya Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengumumkan Xavi pada 12 Agustus. Ujian pertamanya sudah menanti: menjamu Jerman pada laga Nations League 24 September, sekaligus berhadapan dengan Jürgen Klopp yang juga baru memulai pekerjaan barunya.

Keterikatan Xavi dengan “Universitas Sepak Bola”

Ungkapan “universitas sepak bola” bukan sekadar retorika belaka. Karier Xavi memang tumbuh dari akar sepak bola Belanda, terutama melalui La Masia, akademi Barcelona yang fondasinya dibangun di atas filosofi total football ala Rinus Michels dan Johan Cruyff. Ia bahkan menjalani debut tim utama saat Barcelona ditangani Louis van Gaal, lalu bermain bertahun-tahun di bawah Frank Rijkaard sebelum menjadi pilar utama tim impian era Pep Guardiola.

Hubungan Xavi dengan sepak bola Belanda juga menyentuh sisi personal. Pada 2014, ia bersama Cruyff meresmikan sebuah Cruyff court di kampung halamannya, Terrassa, sebagai ruang olahraga multifungsi untuk anak-anak. Xavi pun mengenang pertemuan-pertemuannya dengan Cruyff di masa-masa akhir hidup sang legenda, yang wafat pada 2016, dengan penuh kehangatan. “Ia selalu positif, bahkan saat sakit, dan itu yang saya pelajari: selalu tersenyum,” kata Xavi. “Hal itulah yang ingin saya tunjukkan kepada para pemain di sini.”

Filosofi Xavi sebagai Pelatih Belanda: Kuasai Bola, Ambil Inisiatif

Xavi sejak lama dikenal sebagai pelatih yang memuja penguasaan bola, dan ia ingin menerapkannya di Belanda. Tujuannya sederhana: mendominasi permainan, mengambil inisiatif sejak menit awal, dan tetap mempertahankan passion di lapangan. “Hal yang sangat penting bagi saya sebagai pelatih,” ujarnya, “adalah menunjukkan kepada semua orang tim yang punya hasrat, keinginan, dan ambisi.”

Ia pun menjawab pertanyaan yang sempat mengemuka di media Belanda: akankah ia memakai lima bek seperti Louis van Gaal atau Ronald Koeman? Xavi menegaskan itu bukan idenya. Ia lebih memilih formasi yang memberi ruang lebih besar untuk mendominasi pertandingan, antara lain:

  • 4-3-3
  • 4-2-3-1
  • 3-4-3

Ketiga opsi tersebut sejalan dengan tradisi lama Belanda yang selalu menonjolkan sepak bola menyerang. Karena itu, Xavi dinilai sebagai sosok yang pas untuk membangkitkan kembali gaya khas Oranye. Para penggemar tentu berharap pendekatan ini bisa mengembalikan kejayaan Belanda di pentas internasional.

Proses Panjang di Balik Penunjukan Xavi

Direktur sepak bola elit KNVB, Nigel de Jong, membuka tabir bagaimana Xavi akhirnya terpilih. De Jong mengaku pertama-tama meraba minat Guardiola, yang menyatakan belum ingin mengambil pekerjaan dalam waktu dekat, kemudian mengadakan dua pertemuan dengan Arne Slot. Slot pun memilih tetap menjadi pelatih klub.

Setelah itu, De Jong mengundang Xavi ke Amsterdam untuk bertemu, dan Clarence Seedorf, anggota dewan pengawas KNVB, ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Keesokan harinya, De Jong dan Seedorf berbincang panjang dengan Michael Reiziger, pelatih tim U-21 Belanda yang pernah menjadi rekan setim Xavi di Barcelona. Sempat muncul wacana mempromosikan Reiziger seperti perjalanan Luis de la Fuente bersama Spanyol, mengingat pengetahuannya tentang talenta muda Belanda dianggap sebagai nilai tambah besar.

Saat pertemuan dengan Reiziger bocor ke media Belanda, banyak pihak menduga mantan bek sayap itu yang akan ditunjuk. Namun pada 12 Agustus, KNVB justru mengumumkan Xavi, sebuah keputusan yang tampak mengejutkan banyak orang. Xavi sendiri menanggapi proses itu dengan santai: “Bukan posisi yang buruk kan, setelah Guardiola dan Slot? Setidaknya saya berada di podium. Saya tidak peduli apakah saya pilihan ketiga atau kesepuluh, ini kehormatan besar bagi saya.”

Kebijakan Xavi soal Pemain dari Liga Saudi

Pertanyaan menarik lain yang dilemparkan kepada Xavi adalah kebijakannya terhadap pemain yang berkarier di Liga Pro Saudi. Isu ini menjadi relevan setelah Tijjani Reijnders pindah dari Manchester City ke Al-Qadsiah pekan lalu. Sebelumnya, Ronald Koeman sempat menegaskan bahwa Steven Bergwijn tidak akan dipanggil lagi setelah pindah ke Al-Ittihad karena level liga tersebut dinilai tidak sesuai standar.

Xavi punya pandangan berbeda. “Liga Saudi juga liga yang bagus,” katanya. “Mungkin kami akan memilih pemain dari Saudi, dari Eredivisie, Premier League, atau La Liga. Saya tidak peduli liganya, saya peduli performa dan pemainnya.”

Debut Kontra Jerman: Duel Melawan Klopp

Laga perdana Xavi di kursi pelatih Belanda sudah menunggu di depan mata. Pada 24 September, Belanda akan menjamu Jerman di Amsterdam dalam lanjutan Nations League, dan Xavi akan berhadapan dengan Jürgen Klopp yang juga baru memulai pekerjaan barunya. “Saya merasa antusias dan termotivasi,” ucapnya, “karena kami akan melawan Jerman, salah satu tim terbaik Eropa, dengan salah satu pelatih terbaik dalam beberapa tahun terakhir.”

Sebelum laga itu, Xavi mengaku sudah berbicara dengan Frenkie de Jong, pemain yang pernah ia latih di Barcelona, serta Virgil van Dijk. Ia berencana kembali bertemu Van Dijk selaku kapten untuk mendengar ambisi mereka terhadap tim ini. Di sisi lain, Xavi juga akan didampingi staf yang mencakup nama besar seperti Ruud van Nistelrooy.

Xavi menyimpan mimpi besar untuk mengembalikan gaya Belanda yang ia kagumi sejak kecil. “Saya ingat ketika masih kecil, saya menonton Belanda dan menonton sepak bola yang indah,” katanya. “Itulah jalan saya, dan itulah target saya.”

Penunjukan Xavi membawa angin segar bagi Belanda yang ingin kembali tampil dominan di kancah Eropa. Dengan filosofi menyerang, keterbukaan terhadap pemain dari berbagai liga, dan kedekatan emosional dengan budaya sepak bola Belanda, ia punya modal kuat untuk sukses. Kini semua mata tertuju pada laga kontra Jerman: ujian pertama yang akan menentukan apakah “universitas sepak bola” benar-benar menjadi rumah baru yang tepat bagi Xavi.

West Brom Kalahkan Burnley 3-1, Isaac Price Jadi Bintang

West Brom berhasil mengalahkan Burnley 3-1 dalam laga Championship yang digelar di The Hawthorns, dengan Isaac Price tampil sebagai bintang lewat dua golnya di babak kedua. Gelandang asal Irlandia Utara itu juga berperan dalam gol penyeimbang Harry Whitwell, setelah Burnley sempat unggul melalui gol bunuh diri Callum Styles. Tiga poin ini sekaligus mempertahankan rekor sempurna West Brom pada awal musim.

Pertandingan ini menarik karena Burnley datang tanpa Zian Flemming, striker andalan yang absen karena cedera di tengah spekulasi kepindahan yang santer. Burnley sendiri diunggulkan sebagai salah satu favorit promosi, tetapi mereka tampil mengecewakan di babak kedua. Di sisi lain, pelatih West Brom James Morrison mengingatkan anak asuhnya untuk tetap rendah hati meski berhasil meraih kemenangan penting ini.

West Brom Kalahkan Burnley Berkat Aksi Isaac Price

Jalannya pertandingan sangat cepat sejak menit awal, dan dua gol sudah tercipta dalam 18 menit pertama. Burnley memimpin lebih dulu pada menit kedelapan lewat gol bunuh diri Callum Styles, yang berusaha menghalau bola agar tidak sampai ke Oliver Sonne namun justru mengirim bola ke gawang sendiri dari tumit kirinya. West Brom sempat protes karena Hannibal Mejbri dianggap melanggar Felix Horn Myhre sekitar 70 yard dari gawang, tetapi gol tetap dianggap sah karena beberapa alur permainan sempat berlanjut sebelum momen itu terjadi.

West Brom merespons cepat dan menyamakan kedudukan pada menit ke-18 melalui Harry Whitwell. Pemain berusia 20 tahun itu mencetak gol liga pertamanya untuk Albion dengan menembak rendah ke sisi kiri Max Weiss dari jarak 12 yard. Gol ini berawal dari umpan silang Isaac Price yang disundul Jimmy-Jay Morgan, sebelum Bashir Humphreys gagal memberikan penyelesaian bersih di area pertahanan Burnley.

Setelah gol penyama kedudukan, justru Burnley yang nyaris kembali unggul ketika Jacob Bruun Larsen melepaskan tembakan yang membentur tiang gawang, memanfaatkan umpan silang Marcus Edwards. Kedua tim terus saling menekan, tetapi tidak ada tambahan gol hingga turun minum. Skor 1-1 bertahan dan pertandingan memasuki babak kedua dengan keadaan masih terbuka.

Isaac Price Jadi Pembeda di Babak Kedua

Babak kedua berubah total karena West Brom langsung mengambil kendali permainan dan unggul pada menit ke-46. Isaac Price melepaskan tembakan melengkung ke sudut jauh gawang Max Weiss, yang saat itu berada sekitar lima yard dari garis gawang. Bola dari situasi liar berawal ketika Jimmy-Jay Morgan mencoba mengembalikan umpan silang Styles dan Hannibal memberikan tekanan kepada pemain Burnley.

Burnley berusaha merespons dengan melakukan tiga pergantian pemain sekaligus pada menit ke-57, memasukkan Ugo Raghouber, Zeki Amdouni, dan Dastan Satpayev. Amdouni sempat menguji Max O’Leary lewat tendangan melengkung dari jarak 20 yard, tetapi bola masih melayang tepat ke arah kiper West Brom. Ternyata justru West Brom yang berhasil menambah gol untuk mengunci kemenangan.

Gol penutup West Brom datang dari titik penalti setelah Bashir Humphreys menjatuhkan Harry Whitwell di kotak terlarang. Isaac Price maju sebagai eksekutor dan tidak melakukan kesalahan, melepaskan tembakan rendah ke sisi kanan Weiss yang bergerak ke arah berlawanan. Dengan dua gol dan satu assist, Price menjadi aktor utama di balik kemenangan comeback timnya.

Komentar Morrison dan Hayen: Soal Intensitas dan Energi

James Morrison menilai penampilan timnya sangat top dan menikmati pertandingan karena para pemain menunjukkan intensitas tinggi serta mau berlari untuk satu sama lain. Ia merasa dasar-dasar permainan dijalankan dengan baik, mulai dari memenangkan tekel, berlari kembali saat kehilangan bola, hingga memanfaatkan peluang yang ada. Morrison bahkan mengaku sudah mencium tanda-tanda Burnley tidak mampu menghadapi intensitas anak asuhnya sejak babak pertama, sehingga pesan saat istirahat adalah meningkatkan tempo.

Meski puas dengan hasil ini, Morrison menegaskan timnya tidak boleh terbawa perasaan. “Kami menikmati bersaing dengan tim-tim yang disebut lebih besar dan hari ini kami bersaing dengan sangat baik,” katanya. “Kami tidak ingin berlebihan, harus tetap membumi, bekerja keras, dan stay humble.”

Di kubu Burnley, pelatih Nicky Hayen mengakui timnya kalah energi, keinginan, dan semangat dari tuan rumah. Ia memberi kredit kepada West Brom yang tampil dengan struktur bagus serta penuh energi dan hasrat. Hayen juga mengakui timnya punya masalah tanpa solusi, dan menyebut hasil ini sebagai pembuka mata bagi semua orang, termasuk dirinya sendiri.

Start Sempurna West Brom dan Tekanan di Klasemen

Kemenangan ini membuat West Brom mempertahankan rekor 100 persen pada awal musim. Ini adalah kemenangan ketiga beruntun mereka di semua kompetisi sekaligus kemenangan kedua di liga. Alhasil, Albion naik ke peringkat kedua klasemen sementara, berada di bawah Millwall yang unggul selisih gol.

Di sisi lain, Burnley gagal memenuhi ekspektasi sebagai tim yang diunggulkan. Mereka tampil tanpa Flemming dan tidak mampu menunjukkan kualitas yang membuat banyak pihak menilai mereka kandidat promosi. Jika performa ini berlanjut, tekanan terhadap Hayen dan anak asuhnya bisa semakin besar di tengah persaingan ketat Championship.

Burnley Tanpa Flemming di Tengah Spekulasi Transfer

Absennya Zian Flemming menjadi salah satu sorotan utama laga ini. Striker bintang Burnley itu harus menepi karena cedera, sementara spekulasi mengenai masa depannya terus menguat menjelang penutupan bursa transfer. Tanpa kehadirannya di lini depan, Burnley kehilangan daya gedor yang seharusnya menjadi senjata utama mereka.

Sementara isu transfer Flemming tetap menjadi perhatian di luar lapangan, hasil ini membuat posisi Burnley semakin disorot. West Brom justru memanfaatkan situasi untuk membuktikan diri mampu bersaing dengan tim-tim unggulan. Kemenangan ini pun makin menegaskan bahwa Albion tidak boleh diremehkan musim ini.

West Brom Pertahankan Aune Heggebø dan Ajukan Banding

Selain kemenangan, Morrison juga membela Aune Heggebø yang absen pada laga ini. Penyerang Norwegia itu dijatuhi larangan bermain dua pertandingan oleh FA secara retrospektif karena dianggap menipu ofisial pertandingan. Hukuman ini terkait insiden saat gol West Brom ke gawang Norwich yang masuk setelah mengenai tangan Heggebø, dan Albion telah mengajukan banding.

Morrison mengaku frustrasi dan terkejut dengan keputusan tersebut. Ia menyebut Heggebø kecewa, dan klub ingin mendukungnya penuh dengan mengajukan banding. “Dia dianggap menipu wasit, padahal tidak. Memang bola mengenai tangannya, tetapi dengan kecepatan umpan silang dan sentuhan kiper, sangat sulit untuk menghindar,” ujarnya.

Kemenangan ini membuktikan West Brom pantas diperhitungkan di Championship musim ini. Burnley justru mendapat peringatan dini bahwa status favorit tidak menjamin apa pun di kompetisi yang ketat. Dengan Price dalam performa terbaik dan semangat tim yang tinggi, Albion punya modal kuat untuk terus bersaing di papan atas.

Ringkasan Championship: Nuno Akui West Ham Kecewakan Fans

Ringkasan Championship pekan kedua menghadirkan sejumlah kejutan, dan yang paling mencolok adalah kekalahan West Ham United dari Charlton Athletic. The Hammers takluk 1-2 di kandang sendiri dalam derbi London yang berlangsung sengit, membuat pelatih Nuno Espírito Santo secara terbuka mengakui bahwa timnya telah mengecewakan para pendukung. Kekalahan ini kembali menegaskan buruknya rekor West Ham dalam laga derbi belakangan ini.

Charlton datang ke markas West Ham dengan modal kemenangan di laga pembuka dan berhasil mempertahankan rekor sempurna mereka. Gol dari Lloyd Jones dan Tyreece Campbell sempat membawa tim tamu unggul 2-0 sebelum Joel Piroe memperkecil ketertinggalan pada penampilan perdananya. Namun, Taty Castellanos gagal mengeksekusi penalti pada masa injury time, sehingga West Ham harus puas pulang dengan tangan hampa.

Nottingham Forest’s Portuguese manager Nuno Espirito Santo looks on during the English Premier League football match between Nottingham Forest and Brentford at The City Ground in Nottingham, central England, on August 17, 2025. (Photo by Darren Staples / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or ‘live’ services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

West Ham Kalah Lagi, Nuno Akui Timnya Mengecewakan Fans

Charlton membuka keunggulan melalui Lloyd Jones dan kemudian menggandakannya lewat Tyreece Campbell, membuat tuan rumah tertunduk di hadapan 62.000 penonton yang memadati stadion. Joel Piroe, yang didatangkan dengan status pinjaman dari Leeds United, sempat mencetak gol pada penampilan pertamanya dan memicu perlawanan sengit di sisa laga. Sayangnya, Taty Castellanos yang maju sebagai eksekutor penalti pada masa injury time gagal memanfaatkan peluang emas untuk menyamakan kedudukan.

Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk West Ham yang tidak pernah menang dalam sepuluh laga derbi terakhir, dengan sembilan di antaranya berakhir kekalahan. Nuno pun angkat bicara mengenai keputusan menunjuk Castellanos sebagai algojo penalti, alih-alih Jarrod Bowen yang selama ini menjadi andalan. Ia menegaskan bahwa timnya tetap percaya kepada Castellanos, meski keputusan untuk laga berikutnya akan dievaluasi lagi.

“Kami mempercayai Taty untuk mengambil penalti. Saya tidak tahu [apakah dia akan mengambil penalti berikutnya], kami harus memutuskan. Kami mulai buruk lagi. Kami dihukum dari situasi di mana kami tahu Charlton bisa menciptakan masalah,” ujar Nuno. “Kami masih menciptakan banyak peluang tetapi tidak cukup akurat di kotak penalti. Sepak bola memang begitu—harus akurat di kotak penalti lawan dan kami harus bertahan lebih baik.”

Nuno juga tidak menampik bahwa dirinya tengah berada di bawah tekanan besar. “Tentu saja saya merasa tertekan. West Ham adalah klub besar dan tekanan itu ada setiap hari. Anda bisa melihat 62.000 fans di tribun dan kami mengecewakan mereka,” katanya. “Para pemain sudah berusaha sampai akhir. Kami akan terus mengulang latihan di sepertiga akhir untuk menciptakan peluang mencetak gol. Kami akan menjaga keyakinan dan proses ini.”

Wolves dan Blackburn Raih Kemenangan Penting

Wolves akhirnya meraih kemenangan pertama mereka musim ini setelah menundukkan Preston North End 3-1 di Deepdale. Fer López menjadi bintang dengan mencetak dua gol, diawali tembakan keras pada menit kedelapan yang tak mampu dihalau kiper lawan. Adam Armstrong, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, langsung memberikan dampak dengan gol pada menit ke-71, hanya empat menit setelah dirinya turun ke lapangan.

López menutup pesta dengan gol kedua pada menit ke-82, sebelum Jordan Thompson memperkecil kekalahan lewat tendangan dari jarak 25 yard pada menit pertama injury time. Kemenangan ini sangat berarti bagi tim yang baru terdegradasi dari Premier League tersebut. Sementara itu, Preston harus puas tanpa kemenangan dalam dua laga pembuka musim ini.

Di Ewood Park, Blackburn Rovers sukses membalikkan keadaan untuk mengalahkan Middlesbrough 2-1. Sempat tertinggal akibat gol Jeremy Sarmiento pada menit ke-12, Rovers bangkit setelah jeda dengan dua gol dalam enam menit. Andri Gudjohnsen menyamakan kedudukan lewat sundulan pada menit ke-49, lalu Todd Cantwell melengkapi comeback dengan sundulan menyelam enam menit kemudian.

Southampton Raih Kemenangan Dramatis atas Stoke

Divin Mubama menjadi pahlawan Southampton dalam kemenangan 3-1 atas Stoke City di St Mary’s. Penyerang pinjaman dari Manchester City itu mencetak gol dramatis pada laga debutnya di kandang, tepat melawan klub yang pernah memperkuatnya. Hampir setahun lalu, ia diusir keluar lapangan saat membela Stoke di stadion yang sama karena dianggap melakukan diving. Kini, Mubama justru menjadi penentu kemenangan Southampton yang menjaga rekor tak terkalahkan di kandang sejak Januari.

Ryan Manning juga menyumbang gol lewat penalti pada masa injury time setelah Svante Ingelsson diusir wasit karena menjatuhkan Samuel Edozie. Sebelum itu, Cyle Larin sempat membawa Stoke unggul lebih dulu dengan gol ketiganya dalam tiga laga beruntun. Ethan Galbraith kemudian menyamakan kedudukan dan membuat Stoke tampak layak membawa pulang satu poin hingga akhirnya mereka pulang dengan tangan hampa.

Millwall dan Portsmouth Tampil Meyakinkan

Millwall tampil impresif dengan menghancurkan Norwich City 3-0 di The Den. Taïryk Arconte mencetak dua gol pertamanya untuk Millwall, yang membuat Norwich harus menelan kekalahan kedua beruntun di awal musim. Bek Norwich, José Córdoba, diganjar kartu merah di babak kedua setelah melanggar Arconte, memperburuk keadaan tim tamu yang sempat diunggulkan bersaing di zona playoff.

Manajer Millwall, Alex Neil, menyebut penampilan timnya sebagai yang paling sempurna sejak ia menukangi klub hampir 20 bulan terakhir. Ia menilai anak asuhnya tampil lengkap dari segi organisasi permainan, penyelesaian peluang, dan kerja sama tim. Kemenangan ini membuat Millwall meraih dua kemenangan dari dua laga pembuka musim.

Portsmouth juga meraih kemenangan perdana mereka musim ini setelah menaklukkan Lincoln City 3-1. Ryan Kavuma-McQueen membuka keunggulan pada menit ketujuh, disusul gol Adrian Segecic sembilan menit kemudian. Reeco Hackett-Fairchild sempat memperkecil kedudukan lewat penalti, tetapi Ebrima Adams memastikan kemenangan Portsmouth dengan gol indah pada menit ke-69. Lincoln pun masih mencari kemenangan perdana mereka di kasta kedua setelah lebih dari 60 tahun.

Ringkasan Championship: Hasil Laga Lainnya

Wrexham harus menunggu lebih lama untuk meraih kemenangan pertama mereka di Championship setelah ditahan imbang 1-1 oleh Watford. Laga di Racecourse Ground ini disaksikan langsung oleh pemilik klub, Ryan Reynolds dan Rob McElhenney. Luca Kjerrumgaard membawa Wrexham unggul melalui sundulan, tetapi Danny Imray menyamakan kedudukan dengan gol pertamanya untuk klub. Hasil imbang ini menjadi yang kedua beruntun bagi Wrexham setelah pada laga pembuka mereka kehilangan kemenangan akibat gol penyeimbang Cardiff di menit akhir.

Cardiff sendiri masih belum terkalahkan dalam dua laga kembalinya ke kasta kedua. Cian Ashford dan Yousef Salech mencetak gol untuk Cardiff, tetapi Derby County dua kali menyamakan kedudukan lewat Carlton Morris dan Bobby Clark di depan 28.926 penonton. Rams tampil kurang meyakinkan di sebagian besar laga, tetapi mampu memanfaatkan kelengahan pertahanan Cardiff untuk meraih poin pertama mereka musim ini.

Birmingham City nyaris kehilangan poin penuh saat menjamu Bristol City, tetapi Demarai Gray menyelamatkan satu angka lewat penalti di menit akhir sehingga laga berakhir 2-2. QPR dan Bolton harus puas berbagi poin tanpa gol di Loftus Road, dengan Richard Kone yang menyia-nyiakan sejumlah peluang emas. Sheffield United juga ditahan imbang 0-0 oleh Swansea City, meski Callum O’Hare nyaris mencetak gol penentu kemenangan.

Analisis: Tekanan Kian Membesar di Pundak Nuno

Kekalahan dari Charlton membuat posisi Nuno Espírito Santo semakin disorot, mengingat ekspektasi besar yang melekat pada klub sebesar West Ham. Rekor sembilan kekalahan dalam sepuluh derbi terakhir menunjukkan adanya masalah mendasar yang belum tuntas, terutama dalam hal penyelesaian akhir dan konsistensi pertahanan. Keputusan memberikan bola penalti kepada Castellanos juga memicu perdebatan, karena Jarrod Bowen kerap dianggap sebagai eksekutor paling andal di lini depan West Ham.

Nuno tampaknya sadar betul bahwa ia berutang hasil kepada para pendukung yang memadati tribun. Pernyataannya tentang perasaan kecewa karena mengecewakan 62.000 fans menjadi pengakuan jujur atas situasi yang dihadapinya. Namun, ia juga menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki tim melalui latihan dan menjaga keyakinan para pemain, sesuatu yang akan diuji pada laga-laga berikutnya.

Konteks Lebih Luas: Awal Musim yang Ketat dan Duka West Brom

Ringkasan Championship pekan ini juga menegaskan bahwa kompetisi kasta kedua Inggris berjalan sangat ketat sejak awal musim. Charlton tampil sempurna dengan dua kemenangan, sementara tim-tim yang baru terdegradasi seperti Wolves dan Southampton mulai menemukan ritme. Di sisi lain, Norwich justru tampil mengecewakan dengan dua kekalahan beruntun meski sempat difavoritkan bersaing di papan atas.

Di luar lapangan, West Bromwich Albion mengumumkan duka mendalam atas meninggalnya mantan gelandang Quevin Castro di usia 25 tahun. Castro, yang sempat tampil dua kali untuk tim utama West Brom, meninggal dunia setelah mengalami kolaps saat laga persahabatan antara klubnya saat ini, Real Sport Clube, melawan Estrela da Amadora. West Brom berencana memberikan penghormatan dengan tepuk tangan pada menit ke-25 saat menghadapi Burnley, serta mengenakan ban lengan hitam sebagai bentuk belasungkawa.

Pekan kedua Championship menghadirkan banyak cerita, mulai dari kekalahan mengecewakan West Ham hingga kemenangan perdana Wolves dan Portsmouth. Nuno Espírito Santo kini menghadapi tekanan yang semakin besar, tetapi ia menegaskan bahwa timnya akan terus berbenah. Dengan musim yang masih panjang, persaingan di papan atas dipastikan akan semakin menarik untuk diikuti.

Nations League Gabungan UEFA-Concacaf, Tantangan untuk FIFA

UEFA dan Concacaf dikabarkan tengah membahas pembentukan Nations League gabungan yang akan mempertemukan seluruh 96 negara anggota dari Eropa, Amerika Utara, Tengah, dan Karibia. Rencana ini disebut sebagai tantangan langsung terbaru terhadap otoritas FIFA. Informasi tersebut diungkapkan oleh The Guardian berdasarkan sumber yang mengetahui langsung proposal tersebut.

Langkah ini muncul setelah kedua konfederasi bersatu mendorong pemecatan presiden FIFA, Gianni Infantino, menyusul kontroversi rencana penjualan hak siar Piala Dunia. UEFA dan Concacaf menilai posisi Infantino sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Keduanya bahkan dikabarkan sedang menyiapkan kandidat alternatif untuk melawan Infantino dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.

Format Turnamen Nations League Gabungan yang Sedang Disusun

Menurut laporan yang beredar, kompetisi anyar ini akan digelar dua tahun sekali dan bisa mulai bergulir pada 2028, tepat setelah Euro berikutnya. Formatnya akan meniru sistem multi-liga yang sudah dipakai dalam Nations League Eropa dan Concacaf saat ini. Setelah fase liga selesai, akan ada babak gugur dan turnamen final empat tim untuk menentukan juara. Namun, jumlah tim di setiap level liga belum ditentukan karena pembahasan baru berlangsung intensif dalam beberapa pekan terakhir.

Meski pembahasan masih di tahap awal, seluruh 96 anggota UEFA dan Concacaf dipastikan terlibat dalam turnamen ini. Sebagian besar pendapatan kompetisi akan digabungkan sehingga memberikan tambahan pemasukan yang signifikan bagi negara-negara kecil. Bagi asosiasi yang selama ini kesulitan bersaing secara finansial, skema ini tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan.

Liga A: Raksasa Eropa Berjumpa Tim Utama Concacaf

Dalam rancangan awal, Liga A akan mempertemukan tim-tim papan atas Eropa seperti Spanyol, Prancis, Inggris, dan Jerman dengan negara-negara berperingkat tinggi Concacaf, yaitu Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Pertandingan liga yang kompetitif ini diyakini memiliki daya tarik komersial yang sangat besar. Laga rutin tim-tim besar Eropa melawan lawan-lawannya dari Amerika Utara akan menjadi tontonan menarik bagi pasar siaran dan sponsor.

Jadwalnya sendiri tetap menggunakan jeda internasional yang sudah disepakati: fase liga pada September, Oktober, dan November, lalu babak gugur pada Maret, dan final pada Juni. Karena pertandingan digelar dalam jendela internasional yang telah ada, belum jelas apakah turnamen baru ini perlu diratifikasi oleh FIFA. Namun, mengingat FIFA tengah menghadapi krisis kepemimpinan, persoalan ratifikasi itu bisa menjadi perdebatan yang tidak terlalu krusial.

Latar Belakang: Ketegangan UEFA-Concacaf dengan FIFA

UEFA dan Concacaf sebenarnya sudah menjalin kerja sama sejak lama, tetapi hubungan itu semakin erat setelah rencana Fifa Forward Enterprise muncul bulan lalu. Proposal yang disebut-sebut sebagai skema penjualan hak siar Piala Dunia itu membuat kedua konfederasi semakin lantang menyuarakan penolakan terhadap Infantino. Mereka kini bergerak bersama untuk mencari sosok pengganti yang layak diusung pada pemilihan presiden FIFA.

Perlu dicatat, UEFA dan Concacaf sama-sama meluncurkan kompetisi Nations League pada 2018. Keduanya juga sudah terbiasa menggelar laga dalam jendela internasional yang identik. Dengan demikian, mekanisme teknis yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan turnamen gabungan sebenarnya sudah tersedia sejak awal.

Dampak bagi Meksiko dan Potensi Perubahan Peta Kekuatan

Dari sisi komersial, salah satu pihak yang paling diuntungkan adalah Meksiko. Federasi sepak bola Meksiko (FMF) diketahui frustrasi dengan keterbatasan finansial yang mereka rasakan selama bermain di Concacaf. Bahkan, FMF sempat melakukan pembicaraan awal untuk hengkang dan bergabung dengan Conmebol, konfederasi Amerika Selatan, meskipun langkah itu tetap membutuhkan persetujuan FIFA.

Kehadiran format baru ini bisa mengubah sikap Meksiko secara drastis. Alih-alih pindah konfederasi, mereka kini punya peluang menikmati pendapatan besar dari laga melawan tim-tim Eropa tanpa harus meninggalkan Concacaf. Format ini juga menggantikan laga internasional yang sudah ada, bukan menambahnya, sehingga tidak membebani kalender pemain. Selain itu, pertandingan akan dibagi dalam blok geografis untuk mengurangi waktu perjalanan tim.

AFC Berminat dan Masa Depan Kompetisi Global

Menariknya, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga dikabarkan tertarik bergabung dalam kompetisi semacam ini di masa depan. Struktur turnamen yang sedang dibahas disebut cukup fleksibel untuk mengakomodasi kehadiran AFC. Namun, karena AFC saat ini tidak menjalankan Nations League sendiri, keterlibatan mereka masih merupakan aspirasi jangka panjang.

Sementara itu, UEFA menolak berkomentar, tetapi satu sumber yang mengetahui proposal tersebut mengonfirmasi bahwa pembahasan memang sedang berlangsung. Concacaf juga tidak memberikan komentar langsung, tetapi menyoroti komitmen jangka panjang mereka terhadap kolaborasi antar konfederasi. Komitmen itu sudah terbukti lewat kehadiran tim tamu di Piala Emas Concacaf selama bertahun-tahun.

Banyak tim Amerika Selatan pernah ambil bagian di turnamen tersebut berkat hubungan historis dengan Conmebol. Begitu pula Afrika Selatan, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Qatar yang pernah tampil sebagai tamu. Tradisi semacam ini memperlihatkan bahwa kerja sama antar konfederasi sebenarnya sudah mengakar lama.

Rencana Nations League gabungan UEFA dan Concacaf ini menjadi sinyal kuat bahwa dua konfederasi besar siap menantang dominasi FIFA di pentas sepak bola dunia. Dengan melibatkan seluruh anggota dan mempertemukan tim-tim terbaik dari dua benua, turnamen ini berpotensi mengubah peta kompetisi internasional secara fundamental. Bagaimana FIFA dan Infantino merespons tekanan ini akan menentukan arah sepak bola global dalam beberapa tahun ke depan.

Masih banyak detail yang harus diselesaikan, mulai dari pembagian jumlah tim di setiap liga hingga status ratifikasi FIFA. Namun satu hal yang sudah jelas: angin perubahan tengah berembus, dan UEFA bersama Concacaf bertekad menjadi penggeraknya.

Ronaldinho Gabung Ravenna: Misi Cinta dan Kebahagiaan

Kabar mengejutkan datang dari sepak bola Italia: Ronaldinho resmi gabung Ravenna, klub Serie C, di usia 46 tahun. Mantan peraih Ballon d’Or yang terakhir tampil dalam pertandingan resmi pada 2015 bersama Fluminense itu kembali merumput. Kepastian ini sekaligus mengakhiri segala spekulasi yang sempat dianggap banyak orang sebagai iseng atau lelucon belaka.

Kabar perekrutan Ronaldinho pertama kali diumumkan Ravenna pada 19 Juni pukul 22.00 waktu setempat, di tengah perhatian dunia yang tengah tertuju pada Piala Dunia. Wajar jika publik sempat tidak percaya, sebab mendengar pemain sekaliber dirinya bermain di kasta ketiga Liga Italia pada usia 46 tahun terdengar mustahil. Kini, semua keraguan itu telah berganti menjadi antusiasme yang luar biasa.

PHILADELPHIA, PENNSYLVANIA – JUNE 19: Ronaldinho attends the FIFA World Cup 2026 Group C match between Brazil and Haiti at Philadelphia Stadium on June 19, 2026 in Philadelphia, Pennsylvania. Dan Mullan/Getty Images/AFP (Photo by Dan Mullan / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Fakta Utama: Ronaldinho Gabung Ravenna

Keraguan itu akhirnya sirna pada Kamis pagi, ketika Ronaldinho tiba menggunakan jet pribadi dari Milan Linate dan mendarat di bandara Forlì. Mengenakan kemeja bermotif bunga, celana pendek, serta topi pipih khasnya, ia turun dari pesawat dan langsung menjalani tes medis layaknya pemain profesional. Pemandangan itu menjadi bukti nyata bahwa kepindahan ini sungguh-sungguh terjadi, bukan sekadar gimmick.

Setelah tes medis, Ronaldinho menghadiri konferensi pers singkat di Monaldina, kediaman bersejarah keluarga Gardini-Ferruzzi, keluarga ibu dari Presiden Ravenna, Ignazio Cipriani. Dalam sesi yang berlangsung hangat tersebut, ia tampil dengan senyum khas yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Sikapnya yang lembut dan bersahaja membuat banyak orang seperti disihir kembali ke masa kejayaannya.

“Derbi Milan adalah kenangan terindah dari pengalaman Italia-ku sebelumnya,” ujar mantan pemain nomor 10 Barcelona dan AC Milan itu. Ia kemudian menjelaskan alasan di balik keputusan kembali ke Italia: “Persahabatan dan gairah adalah kunci yang membawaku kembali ke sini.” Soal target bersama Ravenna, ia menyebutkan:

  • Membantu dan membangkitkan semangat para pemain lain.
  • Menjalani musim yang spektakuler bersama tim.
  • Meraih kemenangan, jika memungkinkan.

Mengenai kemungkinan tampil di lapangan, Ronaldinho menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada manajemen tim. “Jika sebuah gol datang, pengalamanku di Ravenna akan menjadi semakin indah,” ungkapnya. Meski begitu, ia menegaskan bahwa apakah ia akan bermain atau tidak, keputusan ada di tangan presiden klub dan pelatih.

Latar Belakang: Dari Lelucon Menjadi Kenyataan

Ketika Ravenna mengumumkan perekrutan Ronaldinho pada 19 Juni malam, banyak pihak mengira kabar itu hanyalah bercanda. Pasalnya, pemain yang sudah tidak memainkan pertandingan resmi sejak 2015 itu tiba-tiba dikaitkan dengan klub Serie C. Apalagi saat itu dunia sepak bola sedang sibuk membicarakan Piala Dunia, sehingga kabar ini kian terasa tidak masuk akal.

Di balik kepindahan ini, terdapat sosok Ignazio Cipriani, presiden Ravenna yang berasal dari keluarga ternama pemilik Harry’s Bar. Cipriani disebut memberikan lebih dari sekadar mimpi kepada kota Ravenna melalui kepemimpinannya. Ketika ditanya bagaimana ia meyakinkan sang juara dunia, jawabannya sama persis dengan sang pemain: “Persahabatan dan gairah.”

Cipriani menegaskan bahwa Ronaldinho tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga masuk sebagai pemegang saham Ravenna FC. Ia menilai langkah ini bukan sekadar strategi pemasaran atau mengejar visibilitas internasional. “Ini adalah kesempatan untuk menciptakan antusiasme baru di sekitar klub dan seragam kuning-merah,” tegasnya.

Efek Ronaldinho: Antusiasme dan Dampak Nyata

Kehadiran Ronaldinho langsung membawa dampak nyata bagi Ravenna, kota bersejarah di kawasan Romagna yang jarang menjadi sorotan dunia. Efek Ronaldinho terlihat jelas dari penjualan tiket musiman yang menembus angka lebih dari 2.700 tiket untuk musim Serie C kali ini. Padahal, kompetisi musim ini bahkan belum resmi dimulai.

Puncak kegembiraan terjadi saat presentasi seluruh skuad Ravenna digelar di panggung tepi pantai Marina di Ravenna. Ribuan penggemar memadati lokasi untuk merayakan kehadiran sang idola yang tampil untuk pertama kalinya di hadapan pendukungnya. Seorang anak kecil bahkan berhasil naik ke perancah layar raksasa sambil berteriak, “Aku melihatnya!”

Momen itu menggambarkan betapa besar kebahagiaan yang ditularkan Ronaldinho kepada masyarakat Ravenna. Sejak awal, ia memang menegaskan bahwa misinya di kota ini adalah membawa cinta dan kebahagiaan. “Aku baru saja tiba, tapi aku memiliki keinginan besar untuk menjalani pengalaman ini bersama seluruh kota,” ucapnya.

Ambisi Klub dan Konteks Sepak Bola yang Lebih Luas

Presiden klub tidak menyembunyikan ambisi besar di balik kedatangan Ronaldinho ke Ravenna. Cipriani mengincar promosi cepat ke Serie B, bahkan membidik kasta tertinggi sepak bola Italia. Dengan pengalaman dan aura sang bintang, Ravenna percaya diri untuk melangkah lebih jauh musim ini.

Eksekutif senior Ariedo Braida, yang pernah bekerja di AC Milan dan Barcelona, menilai langkah ini sebagai sesuatu yang istimewa. “Kami memiliki sihir sepak bola di Ravenna, apa lagi yang bisa kami minta?” ujarnya. Braida juga mengenang pernyataan Kevin-Prince Boateng pada 2016 yang menempatkan Ronaldinho di puncak daftar pemain terbaik, mengungguli nama-nama seperti Pelé, Maradona, Messi, dan Cristiano Ronaldo.

Di lapangan, Ronaldinho dipastikan tidak akan tampil pada laga tandang pembuka di Reggio Emilia yang digelar Senin depan. Meski begitu, para suporter berharap segera melihat aksinya dengan nomor 10 yang telah diserahkan pelatih Andrea Mandorlini. Jika ia benar-benar bermain dan mencetak gol, pengalamannya di Ravenna akan menjadi semakin indah, persis seperti yang ia impikan.

Kisah Ronaldinho dan Ravenna membuktikan bahwa sepak bola selalu punya ruang untuk keajaiban. Dari yang semula dianggap lelucon, kini kota kecil di kawasan Romagna itu menjadi perbincangan dunia. Dalam ingatan penduduk setempat, belum pernah ada momen di mana Ravenna dibicarakan sebanyak ini di seluruh penjuru dunia.

Misi Ronaldinho di Ravenna sederhana namun penuh makna: membawa cinta dan kebahagiaan, baik di dalam maupun di luar lapangan. “Terima kasih banyak,” ucapnya kepada para penggemar yang merayakan kedatangannya. Inilah keajaiban sepak bola yang sesungguhnya, dan Ravenna kini berhak memimpikannya.

Mourinho: Real Madrid Batal Rekrut Rodri karena Keraguan

Mourinho Ungkap Real Madrid Batal Rekrut Rodri karena Keraguan

Mourinho membongkar alasan Real Madrid batal merekrut Rodri: keraguan sang pemain. Ia mengaku sempat berbicara langsung dengan Rodri dan klub telah menawarkan kontrak yang sangat bagus. Namun, keraguan yang muncul dari kapten juara Piala Dunia asal Spanyol itu justru membuat pelatih asal Portugal ini ikut ragu.

Pernyataan Mourinho ini keluar pada hari yang sama ketika Rodri resmi diperkenalkan sebagai pemain baru Barcelona. Setelah pindah dari Manchester City dengan nilai transfer €75 juta (£65,4 juta), Rodri menyebut Barcelona “selalu menjadi pilihan pertamanya”. Sementara itu, Mourinho menegaskan bahwa ia tidak akan merindukan Rodri di Santiago Bernabéu.

Kontak Langsung Tanpa Negosiasi dengan Manchester City

Dalam wawancara dengan El Chiringuito, Mourinho menjelaskan bagaimana proses transfer itu berjalan. Real Madrid, menurut dia, menghubungi Rodri dan mengajukan tawaran penting tanpa terlebih dahulu bernegosiasi dengan Manchester City. Ia juga sempat berbicara dengan pemain itu beberapa kali, dan tawaran yang diberikan klub disebutnya sangat bagus.

Namun, respons Rodri tidak seperti yang diharapkan. “Rodrigo ragu, dia ragu. Keraguannya membuat saya ragu,” kata Mourinho. Meski demikian, ia tidak memiliki hal buruk untuk dikatakan tentang pemain berusia 30 tahun itu; Rodri dianggap pemain luar biasa dan bersikap benar terhadap Real Madrid.

Menurut Mourinho, klub sebesar Real Madrid tidak bisa menerima pemain yang berpikir dua kali. “Anda menghubungi pemain, dan pemain itu seharusnya langsung bertanya: ‘Kapan saya berangkat?'” ujarnya. Begitulah cara kerja klub semacam Madrid, tegasnya.

Tiga Tawaran Masuk untuk Rodri setelah Piala Dunia

Seusai Piala Dunia, Rodri ternyata punya tiga tawaran untuk meninggalkan Manchester City: Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan Barcelona. Rodri langsung menyingkirkan PSG dari daftar karena ia ingin kembali ke Spanyol. Pada akhirnya, pemain berusia 30 tahun itu memilih Barcelona, yang berarti ia akan bergabung dengan delapan rekan setimnya di skuad Piala Dunia.

Keputusan ini sempat dibayangkan sebagai kemenangan Barcelona atas rival beratnya. Ketika hal itu ditanyakan kepada Mourinho, ia menjawab dengan tegas: “Kemenangan ada di lapangan, trofi.” Artinya, ia tidak menganggap hasil di meja transfer sebagai ukuran kesuksesan.

Real Madrid Belum Cari Gelandang Pengganti Rodri

Hingga bursa transfer masih berjalan, Real Madrid belum mendatangkan gelandang pengganti meski terus dikaitkan dengan Rodri. Padahal, lini tengah disebut sebagai celah yang jelas dalam tim yang gagal meraih gelar besar dalam dua musim terakhir. Mourinho, bagaimanapun, merasa skuad yang ada sudah cukup.

Mourinho, pada awal periode keduanya menangani Real Madrid, menegaskan tidak ada kebutuhan mendesak untuk mendatangkan pemain baru. “Saya tidak bilang tidak akan ada tambahan pemain karena bursa transfer masih terbuka. Tetapi jika Anda bertanya langsung apakah skuad ini lengkap, bagi saya ya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa skuadnya lengkap, tertutup, dan ia sangat menyukai komposisi tim yang dimilikinya.

Mourinho Tidak Merindukan Rodri dan Tetap Percaya Skuadnya

Mourinho juga menegaskan bahwa ia tidak merindukan Rodri, yang sempat ia panggil Rodrigo. Ia menilai skuadnya punya solusi dan kualitas, jadi tidak ada alasan untuk khawatir. Baginya, para pemain yang ada tinggal diasah agar kemampuan terbaiknya muncul.

“Saya punya pemain yang mungkin Anda lihat dan nilai dari apa yang sudah mereka lakukan. Tetapi saya suka berpikir bahwa saya punya kemampuan untuk meningkatkan pemain,” tutur Mourinho. Ia meyakini seorang pemain yang hari ini dipandang biasa saja bisa menjadi pemain yang berbeda pada hari esok. Karena itu, ia tidak merasa perlu mencari pengganti Rodri di bursa transfer.

Kesimpulan

Kisah transfer Rodri ini setidaknya menunjukkan bahwa Real Madrid sangat mempertimbangkan sikap mental pemain sebelum menuntaskan keputusan. Sementara Barcelona merayakan kedatangan sang kapten juara Piala Dunia, Mourinho justru percaya penuh pada skuad yang sudah ada. Hasil pertandingan, bukan gengsi bursa transfer, yang nantinya menentukan siapa yang benar.

Cristian Romero Pamit dari Tottenham: Si ‘Pemain Tipe Itu’

Ungkapan “dia bukan tipe pemain seperti itu” adalah salah satu kalimat kosong paling terkenal dari komentator pendamping. Kalimat ini biasanya muncul setelah seorang pemain “baik hati” melakukan tekel brutal yang datang terlambat satu hari setelah bola meninggalkan lokasi. Padahal, jika kamu sudah melakukan tekel seperti itu, kamu memang pemain tipe itu, dan tidak ada yang lebih pantas menyandang label itu selain Cristian Romero.

Romero adalah bek Tottenham yang santer dikabarkan akan pindah ke Atlético Madrid. Sepanjang kariernya di Spurs, ia membangun reputasi sebagai pemain yang selalu berada di ambang kekacauan. Enam kartu merah bukanlah catatan yang bisa dianggap kebetulan.

Ungkapan “Bukan Tipe Pemain Seperti Itu” yang Tidak Pernah Masuk Akal

Komentator pendukung sering memakai kalimat itu untuk membela pemain yang baru saja melakukan pelanggaran mengerikan. Padahal faktanya, aksi tersebut justru membuktikan bahwa pemain itu memang tipe yang suka melakukan pelanggaran keras. Pernahkah kita mendengar komentator pendamping berkata, “begitulah, Brian, dia memang pemain tipe itu”? Tidak pernah.

Daftar pemain dengan kartu merah terbanyak di Premier League menunjukkan polanya: Richard Dunne, Duncan Ferguson, dan Patrick Vieira dengan delapan kartu merah, Lee Cattermole dan Roy Keane dengan tujuh, lalu Vinnie Jones, Joey Barton, dan Alan Smith (bukan Alan Smith yang itu) dengan enam. Kehadiran nama-nama ini memperkuat anggapan bahwa ada kategori khusus untuk pemain dengan agresivitas di luar batas. Cristian Romero jelas berada di tier teratas kategori itu.

Tidak ada perdebatan soal kategori di mana Romero berada. Wajahnya selalu menunjukkan kebingungan permanen tentang situasi yang dihadapinya: apakah saya benar-benar bermain untuk Tottenham? Konsisten dalam ketidakkonsistenan, dan selalu satu momen dari mengubah seluruh pertandingan menjadi kekacauan ala Michael Douglas dalam film Falling Down.

Enam Kartu Merah di Tottenham dan Momen yang Paling Membekas

Dari enam kartu merah di Spurs, yang paling membekas adalah saat tersingkir dari Liga Champions melawan Milan pada 2023. Pada leg kedua, Spurs tertinggal 0-1 secara agregat dan skor masih 0-0 di menit ke-77 di Tottenham Hotspur Stadium. Tottenham tidak banyak memberi ancaman, dan Romero sudah mengantongi kartu kuning karena menekel Rafael Leão. Lalu, tanpa alasan yang jelas, ia menabrak Théo Hernandez di sisi lapangan.

Itulah Romero versi puncak: seolah jengkel karena tidak bermain untuk tim yang lebih baik, dan butuh pelampiasan. Hernandez menjadi pelampiasan itu. Momen seperti inilah yang membuat penggemar Spurs terus menggelengkan kepala.

Empat Kartu Merah Cristian Romero di Premier League

Empat kartu merah Cristian Romero di Premier League memuat semua momen favorit penggemar. Setiap kartu punya cerita yang sulit dilupakan. Berikut rinciannya:

  • Dua kartu kuning saat melawan Manchester City, berawal dari tekel telat ke Erling Haaland di area pertahanan City. Tekel itu benar-benar memberi tahu Haaland bahwa Romero ada di sana.
  • Kartu merah langsung karena tekel yang hanya akan lolos di era 1986, terjadi saat melawan Chelsea ketika Tottenham memuncaki klasemen dan unggul 1-0 di awal era Ange Postecoglou. Gary Neville berseru, “oh tidak, Romero, kamu… kamu… kamu…”
  • Dua kartu kuning karena protes dan menendang Ibrahima Konaté yang sudah jatuh di lapangan saat melawan Liverpool pada Desember. Itu menjadi kartu merah pertamanya musim lalu.
  • Kartu merah langsung kepada Casemiro, juga tekel tipe “gapai bola sekalian gapai kaki” yang mungkin lolos di tahun 1986. Itu datang tak lama setelah Romero mengkritik klub di media sosial, memicu seruan agar ban kaptennya dicopot, dan menjadi kartu merah keduanya musim tersebut.

Lagi-lagi Neville berkata, “Apa yang dia lakukan?” Pertanyaan itulah yang paling mewakili perasaan penggemar saat menonton Romero. Di satu sisi brilian, di sisi lain selalu mengundang tanda tanya besar.

Sisi Lain: Pahlawan di Final Liga Europa

Sering dikatakan bek hebat tidak pernah menjatuhkan diri. Namun, Romero justru menghabiskan seluruh kariernya di Spurs dalam posisi jatuh. Saat final Liga Europa melawan Manchester United, ia menghabiskan sebagian besar laga di permukaan lapangan untuk menghadang tembakan dan pemain United.

Penampilannya di laga itu layak dinobatkan sebagai pemain terbaik. Banyak yang mengingat penyelamatan Micky van de Ven di garis gawang, tetapi Romero tampil tak terkalahkan di pertandingan itu. Dia memang tidak bisa tidak tampil hebat. Ia juga pernah bermain di dua final Piala Dunia, jika kita mau menerima anggapan bahwa ada pemain Argentina yang benar-benar bermain di final terakhir.

Gasperini, Scaloni, Conte, Postecoglou, Frank, dan Simeone semua menyukainya. Semua penggemar juga menyukai pemain yang berani menghadang lawan. Kita senang menganggap diri kita halus, tetapi kita berevolusi dari primata. Tekel keras dari pemain sendiri bisa membangkitkan naluri purba yang dalam, dan Romero juga sering mencetak gol-gol penting.

Atlético Madrid: Rumah Spiritual yang Tepat

Kabar kepindahannya ke Atlético Madrid terasa sempurna begitu rumor mulai beredar. Orang-orang yang saya ajak bicara tentang sepak bola Spanyol bilang Atléti bukan lagi tim yang kita kenal selama ini, bukan sekumpulan Godín, Giménez, dan Juanfran. Mungkin Simeone sedang membawa mereka kembali ke akar tersebut.

Jarang ada pemain yang terasa cocok di klub sebelum resmi mengenakan seragamnya. Tapi Romero memang terlihat tidak cocok di Tottenham bahkan sejak awal, meski ia bermain brilian dalam laga bertahan di final Liga Europa. Apakah itu benar-benar gambaran bek tengah Tottenham yang seharusnya?

Warisan Cristian Romero di Tottenham: Legenda yang Bikin Jengkel

Bek tengah terbaik Tottenham biasanya adalah Gary Mabbutt, Ledley King, Jan Vertonghen, atau Toby Alderweireld: solid, dapat diandalkan, dan tenang. Sementara yang terburuk banyak jumlahnya, tetapi tidak banyak yang ceroboh seperti Romero. Ia adalah pengecualian dalam daftar panjang bek Spurs.

Mungkin ini kekurangan saya sendiri, atau kekurangan cara kita menonton dan mengonsumsi sepak bola: saya sudah mengambil keputusan sejak awal. Saat menonton Romero, saya kesal pada sesuatu yang dia lakukan, atau kesal karena saya akan kesal pada sesuatu yang akan dia lakukan kemudian. Kekesalan permanen ini membuat penilaian objektif mustahil dilakukan.

Karena itu, ketika orang berbicara tentang kepemimpinannya dan terutama kemampuannya menguasai bola, saya tidak pernah sepenuhnya yakin. Namun, satu hal yang pasti: Romero meninggalkan kesan yang tidak bisa diabaikan di Tottenham. Baik atau buruk, ia selalu mencuri perhatian.

Cristian Romero adalah paradoks yang menarik: pemain yang selalu tampak bingung namun punya naluri bertahan luar biasa, ceroboh namun sering menjadi penentu kemenangan. Selamat jalan, Cristian. Saya merasa akan jauh lebih tidak menegangkan menontonmu bermain untuk tim yang tidak terlalu saya pedulikan. Dia mungkin meninggalkan Tottenham sebagai legenda klub, dan jika benar, dia pergi sebagai legenda yang sangat menjengkelkan.